Bunyi kerosak dari dedaunan kering yang terinjak memecah kesenyapan Desa Dekso.
Pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826, desa ini merupakan markas kedua Makam Serdadu dan Anjing Kesayangannya yang Dibantai Laskar Dipanagara
Sayangnya, makam itu memang tak terurus dan ditumbuhi rumput liar. Batu-batu nisannya, yang hanya seukuran sejengkal tangan orang dewasa, nyaris termakan rumput.
Mereka yang binasa karena membela Dipanagara dalam Perang Jawa, namun terlupakan dalam retasan masa.
Nisan-nisan itu berbentuk limas polos, namun beberapa berhias motif tumpal sederhana. Tanpa nama, tanpa identitas apapun. Tampaknya, satu batu mewakili satu orang seperti permakaman di Arabia. Ki Roni menghitungnya sambil menunjuk satu per satu. “Jumlahnya ada 147 makam,” ucapnya. “Tapi sepertinya ada beberapa batu nisan yang hilang.” Saya bertanya kepada Ki Roni, mungkinkah IKPD mengajak keluarga keturunan laskar Dipanagara untuk merawat tempat ini? “Justru keturunan laskar Dipanagara yang mengejar-ngejar saya untuk merawat,” ungkapnya. Kemudian dia menirukan pinta keturunan laskar Dipanagara, “Mas, mohon makam ini dirawat. Bukankah ini makan para prajurit kakek moyang Anda?”
#CeritaRakyat #History #Sejarah #Indonesia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar