Minggu, 21 April 2019

KEBENARAN AL-QUR'AN

بسم الله الرحمن الرحيم

Bukti -bukti kekuasaan Allah dan kesempurnaan Ilmu-Nya
SURAH AR-RAD AYAT 1-10

1. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur'an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

3. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

4. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yg berfikir.

5. Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?" Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

6. Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan. padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.

7. Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.

8. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.

9. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.

10. Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.


Alhamdulillah hirabbil'alamiin
Sadaqallah'hul'adziim

Sabtu, 20 April 2019

Birrul Walidain




Birrul Walidain (Arab: بر الوالدين) adalah bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Yang mana berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap Muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah non muslim. Setiap muslim wajib mentaati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah. Birrul walidain merupakan bentuk silaturahim yang paling utama.

Dalam Islam tidak saja ditekankan harus menghormati kedua orang tua saja, akan tetapi ada akhlak yang mengharuskan orang yang lebih muda untuk menghargai orang yang lebih tua usianya dan yang tua harus menyayangi yang muda, seorang ulama dalam bukunya juga menjelaskan hal yang serupa. Dalam segala kegiatan umat Islam diharuskan untuk mendahulukan orang-orang yang lebih tua usianya, penjelasan ini berdasarkan perintah dari Malaikat Jibril, karena dikatakan bahwa menghormati orang yang lebih tua termasuk salah satu mengagungkan Allah.

Akhlak ini telah dilakukan oleh para sahabat, mereka begitu menghormati terhadap yang orang yang lebih tua meskipun umurnya hanya selisih satu hari atau satu malam, atau bahkan lahir selisih beberapa menit saja.
Al-Walidain maksudnya adalah kedua orang tua kandung. Al-Birr maknanya kebaikan, berdasarkan hadits rasulullah : “Al-Birr adalah baiknya akhlak”. Al-Birr merupakan hak kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al-‘Uquuq (durhaka), yaitu "kejelekan dan menyia-nyiakan hak“. Al-Birr adalah mentaati kedua orang tua di dalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al-‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.

Kaligrafi terbaru 2019






Jumat, 19 April 2019

BERBUAT BAIK ITU PADA HAKIKATNYA BERBUAT BAIK PADA DIRI SENDIRI





Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Az-Zalzalah, ayat 7 dan 8 sebagai berikut:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Artinya: "Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar zaroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebasar zaroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula."

Zaroh adalah bagian terkecil dari sesuatu, yang di dalam Ilmu Fisika disebut atom. Allah SWT menegaskan bahwa tak satu pun perbuatan manusia, meski sekecil atom, lepas dari perhatian dan pengawasan Allah SWT. Perbuatan baik, betapapun kecilnya, pasti akan mendapat balasan. Demikian juga perbuatan jelek pasti akan mendapat balasan. Balasan bisa diterima di dunia ini, dan bisa pula di akhirat kelak. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada balasan yang tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.



#2019PenuhDrama http://bit.ly/2I5f0uS (klik untuk membaca artikel lain)

Kamis, 11 April 2019

Abdullah bin Salam, Rasulullah, dan '3 Pertanyaan Langit'


Nama aslinya Husain bin Salam. Ia adalah Kepala Rabi Yahudi terkemuka dari Bani Qainuqo’ Madinah. Ia dikenal sebagai seorang yang alim. Ia sehari-hari membaca, merenungi, dan mengajarkan ajaran Taurat kepada Yahudi Madinah kala itu. Ia juga terkenal jujur, baik hati, dan istiqamah. Oleh sebab itu, masyarakat Madinah umumnya dan umat Yahudi khususnya sangat menghormati dan segan kepada Husain bin Salam.
Husain bin Salam juga orang yang tahu bahwa akan ada seorang nabi baru. Informasi itu didapatkannya dari kitab Taurat. Ia sangat tertarik dengan kabar kedatangan nabi baru tersebut. Sehingga ia mempelajari berbagai hal tentang sang nabi baru. Mulai dari ciri, sifat, dan pengetahuan sang nabi baru akan hal-hal yang bersifat ilahiyah. Di samping itu, Husain bin Salam selalu berdoa kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan sehingga bisa bertemu dengan nabi baru tersebut.
Ibarat peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa yang menjadi harapan Husain bin Salam seolah menjadi kenyataan. Kabar tentang kedatangan nabi Allah dan Rasulullah Muhammad saw. ke Madinah sampai di telinga Husain bin Salam. Husain bin Salam kemudian mencari informasi tentang siapa Muhammad. Mencocokkan sifat-sifat dan ciri-ciri, serta melihat wajah Muhammad dengan informasi yang ada di Taurat. Benar saja, apapun yang ada pada Muhammad sesuai dengan keterangan yang ada pada Taurat.
Namun demikian, keyakinan Husain bin Salam bahwa Muhammad adalah nabi baru belum seratus persen. Merujuk buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah, untuk membuktikkan kebenaran bahwa Muhammad adalah seorang nabi baru maka Husain bin Salam mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apa tanda pertama hari kiamat? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh nabi atau orang yang mendapatkan wahyu dari langit saja. 
“Wahai saudaraku, penanda pertama akan terjadinya hari kiamat adalah adanya api yang menggiring manusia dari timur ke barat,” kata Muhammad saw. yang mengaku mendapatkan informasi itu dari malaikat Jibril.
Kedua, apa menu makanan yang pertama kali dinikmati penghuni surga? Rasulullah pun menjawab bahwa cuping hati ikan adalah makanan pertama yang dinikmati penghuni surga. Tidak puas dengan dua pertanyaan di atas, Husain bin Salam kembali melontarkan sebuah pertanyaan terakhir untuk menguji kenabian Muhammad. 
Ketiga, mengapa seorang anak mirip dengan bapaknya? Dan mengapa seorang anak mirip dengan ibunya? Jika kedua pertanyaan sebelumnya bernuansa ‘ghaib’ karena belum terjadi, maka pertanyaan yang ketiga ini lebih bernuansa ‘ilmiah-akademik.’ Rasulullah menjawab, seorang anak akan mirip bapaknya jika bapaknya yang mencapai orgasme dulu pada saat berhubungan badan, dari pada ibunya. Sebaliknya, jika orgasme ibunya mendahului suami maka sang anak akan mirip ibunya.
Setelah mendengar jawaban Rasulullah, seketika itu juga Husain bin Salam langsung berikrar menyatakan diri masuk Islam. Ia juga mengakui kalau Muhammad adalah benar-benar utusan Allah. Atas kesaksiannya tersebut, Allah mengabadikan Husain bin Salam dalam Al-Qur’an Surat al-Ahqaf ayat 10. 
Rasulullah lalu mengganti nama Husain dengan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam pun senang dengan nama baru pemberian Rasulullah itu. Ia lalu mengajak keluarga dekatnya untuk memeluk Islam. Mereka menyambut baik ajakan Abdullah bin Salam. Namun, kabar keislaman Abdullah bin Salam itu membuat berang umat Yahudi Madinah. Mereka tidak lagi respect dengan Abdullah bin Salam, bahkan menentangnya. Seolah mereka tidak terima kalau salah satu tokoh mereka menjadi pengikut Muhammad saw.

Rabu, 03 April 2019

Cerita Laskar Diponogoro #History


Bunyi kerosak dari dedaunan kering yang terinjak memecah kesenyapan Desa Dekso.

Pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826, desa ini merupakan markas kedua Makam Serdadu dan Anjing Kesayangannya yang Dibantai Laskar Dipanagara

Sayangnya, makam itu memang tak terurus dan ditumbuhi rumput liar. Batu-batu nisannya, yang hanya seukuran sejengkal tangan orang dewasa, nyaris termakan rumput.

Mereka yang binasa karena membela Dipanagara dalam Perang Jawa, namun terlupakan dalam retasan masa.
Nisan-nisan itu berbentuk limas polos, namun beberapa berhias motif tumpal sederhana. Tanpa nama, tanpa identitas apapun. Tampaknya, satu batu mewakili satu orang seperti permakaman di Arabia. Ki Roni menghitungnya sambil menunjuk satu per satu. “Jumlahnya ada 147 makam,” ucapnya. “Tapi sepertinya ada beberapa batu nisan yang hilang.” Saya bertanya kepada Ki Roni, mungkinkah IKPD mengajak keluarga keturunan laskar Dipanagara untuk merawat tempat ini? “Justru keturunan laskar Dipanagara yang mengejar-ngejar saya untuk merawat,” ungkapnya. Kemudian dia menirukan pinta keturunan laskar Dipanagara, “Mas, mohon makam ini dirawat. Bukankah ini makan para prajurit kakek moyang Anda?”
#CeritaRakyat #History #Sejarah #Indonesia

3 COWOK MELAMAR ANAK PAK KYAI




#_COWOK_1
Kyai : "Siapa namamu?"
Anas : "Anas, Pak". 
Kyai : "Bagus nian namamu nak. Maksud kedatangan mu ?"
Anas : "Saya mau melamar putri Bpk".
Kyai : Oh.. kalo gitu di tes dulu ya... Coba baca surat Annas sesuai dg namamu".
Anas : "Baik, Pak kyai....". Lalu dia membaca surat Annas 6 ayat dgn lancar. Pa Kyai manggut -manggut.
#COWOK_2
Kyai : "Sekarang kamu siapa ?" sambil menatap orang ke 2..
Thoriq : "...Thoriq, Pak Kyai..
Kyai, : "Hmm .. nama yg bagus. Sekarang kamu baca surat At-Thariq
Thariq : "..baik Pak kyai."
Lalu dia membaca surat At-Thariq 17 ayat dg hati2 takut gak hapal. Pak Kyai manggut manggut senang...
#COWOK_3
Lalu pak Kyai menatap orang ke 3 yg tampak pucat gemetaran ... (membayangkan surat Ali Imron yg 200 ayat)
Kyai : 'Siapa namamu..?"
Imron : (berkeringat dingin) "Saya Imron Pak Kyai,.. tapi biasa di panggil Qulhu...."😅😅
Kyai : Hahh....!!!
JANGAN MESEM MESEM SENDIRI BAGIKAN DONG..
#Humor

Apa Isra Mi'raj itu ?

Ribuan tahun lalu Nabi Muhammad SAW meningalkan kita. Jenazahnya terkubur di Madinah. Tapi, namanya terus disebut, di mana-mana. Ratusan juta orang setiap hari menyebut-nyebut namanya, baik dalam shalat maupun di perkumpulan-perkumpulan zikir yang dikelola ordo-ordo tarekat.
Di kalangan para sufi, Nabi tak diyakini betul-betul mati. Mereka meyakini, Nabi bisa hadir di mana-mana, membimbing umat dan para ulamanya.
Nabi SAW bisa datang menjumpai umat terkasihnya dalam mimpi. Dan mimpi itu pasti benar, karena setan tak bisa menyerupi Nabi walau dalam mimpi. 
Konon Nabi SAW pernah bersabda, man ra’ani fi al manam, fasayarani fi al-yaqzhah (barangsiapa menyaksikan aku dalam mimpi, maka suatu waktu ia akan menyaksikan aku ketika terjaga).
Alkisah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang hidup ratusan tahun setelah Nabi SAW, pernah didatangi Nabi SAW. Al-Jilani berkata, “dalam kurun waktu agak lama saya tak menikah, hingga Nabi SAW datang menegurku, “mengapa kamu tidak menikah”. 
Pada kesempatan lain, Nabi SAW datang meludahi lisan al-Jilani untuk melancarkan perjuangan dakwahnya. Wallahu a'lam bis shawab.
Banyak umat Islam mengharapkan perjumpaan itu. Sekiranya tak terjadi ketika terjaga, maka cukup di dalam mimpi saja.
Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mentadabburkan makna-makna Al-Qur’an dan bulan melipatgandakan bacaan shalawat kepada Sang Junjungan, Nabi Muhammad SAW. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ali sayyidina Muhammad.


#IndonesiaMenang #1Newstainment

KHILAFAH DAN KHALIFAH #GituAjaKokRepot #IndonesiaMenang #Jokowi2Periode

Khilafah dan Khalifah merupakan kata yang berasal dari kata Khalaf yang berarti di belakang. Maknanya adalah sesuatu atau seseorang yang datang di belakang orang lain atau sesudah orang lain.

Dalam Al-Qur'an kata ini memiliki dua kata jamak, yakni Khulafa dan Khalaif. Kata Khulafa berarti pemimpin dalam penegakan hukum dan Khalaif berarti pemelihara yang mengantarkan segala sesuatu kepada tujuan penciptaannya.

Al-Qur'an menggunakan kata Khalifah untuk dua makna. Pertama yakni ketika Allah hendak menciptakan manusia yang termaktub dalam QS Al-Baqarah: 30: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Yang dimaksud di sini adalah manusia yakni Nabi Adam AS sehingga manusia adalah Khalifah.

Kekhalifahan yang sudah disandang oleh manusia ini menuntutnya untuk memelihara dan menghantarkan segala yang berwujud di dunia ini kepada fungsi dan tujuan penciptaannya. Laut, misalnya, diciptakan sebagai tempat berlayar kapal untuk mencari ikan-ikan, mutiara dan sebagainya. Sehingga manusia sebagai Khalifah memiliki tanggung jawab memelihara laut sesuai penciptaannya.

Ketika ada seseorang yang menyembelih anak ayam yang baru menetas atau memetik bunga yang belum mekar juga bisa dikategorikan tidak menjalankan fungsi kekhalifahan yang baik di muka bumi.

Penggunaan kata Khalifah yang kedua yakni ketika Nabi Daud diangkat sebagai penguasa yang termaktub dalam QS Shad: 26: "Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami (Allah) jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berikanlah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, kerena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Khalifah yang dimaksud dalam hal ini penguasa yang memiliki kekuasaan politik untuk mengatur masyarakat. Dan dalam konteks ini, tidak semua manusia bisa menjadi Khalifah. Dalam kontek kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak semua individu wajib dan berhak menegakkan hukum sendiri-sendiri.

Kekhalifahan dalam konteks ini bisa disamakan dengan sistem pemerintahan. Sistem ini bisa berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain, antara satu waktu dengan waktu lain.

Sebagai contoh sistem pemerintahan yang digunakan oleh masing-masing Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) memiliki perbedaan. Dan di berbagai negara termasuk negara-negara Islam juga memiliki perbedaan. Indonesia sendiri menggunakan kekhalifahan yang berbentuk Republik yang berasaskan Pancasila.

Sehingga secara singkat Khilafah adalah sistem pemerintahan dan Khalifah adalah sosoknya. Sistem pemerintahan bisa berbeda tergantung zamannya dan kesepakatan yang dibuat oleh mayoritas masyarakatnya.

Mungkinkan Khilafah dengan Khalifah Tunggal?

Berbicara tentang harus ditegakkannya Khilafah dengan Khalifah tunggal, sejarah membuktikan bahwa perjalanan umat Islam sewaktu berdirinya kekhalifahan Utsmaniyyah tidaklah tunggal. Pada masa itu ada Khalifah lain seperti di Maroko. Hal ini menunjukkan sejak dulu sudah disadari bahwa Khalifah tunggal itu tidak mungkin.

Berbagai usaha dan kenyataan sejarah untuk mewujudkan Khilafah juga selalu tidak memungkinkan dan gagal dilakukan. Seperti upaya Jamaluddin Al-Afghani, Al-Jamiah Al-Islamiyyah, OKI, dan Al-Jamiah Al-Arabiyyah yang akhirnya malah memunculkan peperangan dengan Arab.

Melihat fakta ini, umat Islam harus berfikir realistis dengan melihat fakta bahwa sistem pemerintahan (Khilafah) harus menyesuaikan kondisi dan zaman dengan mengaca pada sejarah. Sistem pemerintahan harus mampu memperkuat sebuah komunitas masyarakat bukannya memunculkan perpecahan yang tidak dibenarkan.

Bertasbih adalah perbuatan yang baik. Tapi jika dilakukan di kamar mandi maka hal itu tidak diperbolehkan karena bukan tempatnya. Bertakbir dianjurkan. Tapi takbir yang menimbulkan emosi dan memecah belah umat, tidak diajarkan.

Imam Malik berkata: "Seandainya ada satu orang minta-minta dan Anda tidak mampu memberinya, maka tidak perlu berkata: ‘Mudah-mudahan Allah memberi Anda." Hal ini bisa menimbulkan kesan bahwa Allah tidak mau memberi. Bayangkan sesuatu hal berdasarkan kemampuan dan kemungkinan.

Disarikan dari beberapa ceramah dan penjelasan Prof. Quraish Syihab.

Selasa, 02 April 2019

GITU AJA KOK REPOT


Tak sedikit orang yang kerap dibikin bingung dengan langkah seorang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam persoalan-persoalan tertentu. Menurut sebagian sahabat karibnya, Gus Dur mempunyai langkah zigzag dan jurus dewa mabok untuk menggambarkan keputusan-keputusannya yang tidak mudah dipahami oleh orang lain. Bahkan, tak jarang memunculkan hujatan-hujatan kepadanya.
Meskipun banyak pelajaran tak mudah dari Gus Dur, dia tetap memegang prinsip mempermudah atau mengambil jalan sederhana dari persoalan sesulit apapun. Maka dari itu, muncullah istilah khasnya, gitu aja kok repot! Sebagai pelajaran dari Gus Dur bahwa setiap persoalan itu mudah, yang susah lika-liku atau birokrasinya dan main mutlak pemikiran sehingga pemikiran tertutup (eksklusif) dalam menyikapi sebuah perbedaan.
Suatu ketika datang seseorang yang mengungkapkan semua persoalan hidupnya kepada Gus Dur dengan segala rona kesusahannya. “Ini kira-kira bagaimana, Gus?” Gus Dur menanggapi, “Bisa kamu kerjakan nggak?” “Bisa Gus.” “Ya sudah tidak perlu dipikirkan,” jawab Gus Dur enteng. “Kalau pun tidak bisa kamu kerjakan, ya sudah tidak perlu dipikirkan,” kata Gus Dur lagi.
Dari percakapan tersebut, begitu mudahnya Gus Dur menaikkan mental seseorang beribu-ribu kali lipat dari kesusahan dan beban berat yang dipikulnya. Tentu Gus Dur secara langsung tidak ikut andil mengerjakana semua kesulitan seseorang. Namun, Gus Dur mengajarkan kepada orang bahwa di dalam kesulitan terpampang luas kemudahan dan jalan keluar sehingga yang perlu dipikirkan ialah solusi bukan kesulitan itu sendiri.
Salah satu pelajaran tersulit dari Gus Dur diungkapkan sahabat karibnya, Muhammad AS Hikam (2013). Pelajaran tersebut ialah berteman dengan pihak yang tidak sependapat atau bahkan pihak yang memusuhi kita. Nampaknya hal ini sederhana saja, apalagi jika hanya diomongkan, diseminarkan, dikhotbahkan, dan ditulis. Yang sulit ketika dipraktikkan. Di sinilah Gus Dur mampu melakukannya tanpa sedikit pun kekhawatiran dan beban apapun.
Bakan, Gus Dur tidak hanya mempraktikkan, tetapi juga sudah sampai pada level “mencintai musuh”. Meskipun Gus Dur pribadi tidak pernah mempunyai musuh, kecuali orang-orang yang memusuhinya. “Musuh saya itu cuma satu, yaitu Pak Harto. Itu juga saya masih mempunyai hubungan baik dengan Pak Harto, datang silaturahim ke rumahnya. Artinya saya tidak mempunyai musuh di dunia ini,” tutur Gus Dur dalam sebuah kesempatan talkshow di salah satu stasiun televisi nasional.
Level “mencintai musuh” tidak hanya kerja keras pribadi, tetapi juga punya dampak atau mengundang reaksi hebat dari yang lain. Bahkan bisa jadi gara-gara melaksanakan kata-kata tersebut secara konsisten, seseorang bisa minimal dicurigai dan maksimal dimusuhi oleh seantero negeri. Apalagi jika sudah ada sentimen primordial seperti agama, ras, etnik, dan gender lalu dibumbui politik.
Namun, “cintailah musuhmu” bagi Gus Dur merupakan diplomasi kultural paling ampuh untuk memunculkan jalan keluar dari persoalan yang dinilai sangat sulit oleh sebagian orang. Ini memang tidak mudah, tetapi tidak ada sesuatu yang sulit bagi Gus Dur. Gitu aja kok repot!

HABIB SALIM JINDAN BANGGA JADI #INDONESIAMENANG


Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, dari segi ilmiah merupakan sosok istimewa. Dari sisi nasab, ia bagian dari ahlul bait (keturunan Nabi Muhammad SAW). Akan tetapi, dia asli Indonesia sekaligus bangga dengan keindonesiaannya.
Hal tersebut dikatakan Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan dalam kajian Islam Nusantara Center (INC) yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3). “Ini terlepas beliau kakek saya. Yang jelas, beliau sering mengungkapkan kebanggaannya terhadap Indonesia melalui karya-karyanya,” ujar Pengasuh Pesantren Al-Fachriyah ini. 
Habib Salim Jindan, kata dia, merupakan ulama produktif yang banyak menghasilkan karya tulis dari berbagai cabang ilmu, terutama di bidang hadits. Ia lahir di Surabaya. Sementara ayahnya, Habib Ahmad bin Husein bin Jindan, lahir di Manado, Sulawesi Utara. Adapun kakeknya, Habib Husein bin Soleh bin Jindan merupakan orang pertama hijrah dari Hadramaut ke Nusantara yang berdakwah di Sulawesi Utara hingga Fillipina. 
Menurut Habib Ahmad, kebanggaan Habib Salim Jindan itu dapat dilihat dari berbagai karyanya yang selalu menambahkan Al-Indunisiy di akhir namanya. “Beliau selalu menyebutkan namanya dengan Al-Allamah Al-Muhaddits As-Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawiy Al-Husainiy Al-Indunisiy,” ungkapnya. 
Selain bangga dengan Indonesia, Habib Salim Jindan juga banyak berguru kepada para ulama Nusantara. Bahkan, berbagai karyanya banyak mengutip karya ulama Nusantara. “Salah satu yang dikutip adalah karya ulama Tuban yang ditulis pada abad ke-14,” papar Habib Ahmad. 
Karya tersebut, lanjut dia, tidak hanya dikutip oleh sang kakek. Akan tetapi, ulama lain seperti Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf yang pernah menulis kitab Fatat Garut juga mengutip karya ulama Tuban tersebut dalam karyanya mengenai Tarikh Kesultanan Banten. “Artinya, karya tersebut merupakan referensi penting untuk melihat sejarah Islam di Indonesia,” lanjutnya.
Menurut Habib Ahmad, Indonesia sebenarnya kaya akan peninggalan sejarah. Namun, perlu usaha besar untuk mengumpulkan naskah-naskah tersebut. Selain itu, ulama dari Indonesia juga sangat hebat. Sayangnya, mereka tidak pernah disebutkan di Timur Tengah. “Analisis saya, ini karena jaraknya yang jauh. Hampir di ujung dunia bagi orang Timteng. Selain itu, juga karena dari segi bahasa,” tandasnya. 
Banyak ulama Nusantara, lanjut dia, jika keluar dari Indonesia justru banyak menjadi rujukan di Timur Tengah. Sebut saja Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Yusuf Al-Makassari, dan lainnya.
Habib Salim Jindan, kata dia, banyak menulis biografi para guru. Terhitung lebih kurang ada 400 tokoh yang menjadi gurunya. Sekitar 200-an merupakan ulama Nusantara. “Beliau menulis biografi tersebut secara detail mulai dari nasabnya, sanadnya, hingga pandangan-pandangannya,” ungkap Habib Ahmad. 
Adapun penyusunannya, lanjut dia, disusun sesuai mu’jam (abjad). Sejauh ini, dari karya biografi tersebut yang disimpan keluarganya ada empat jilid yang tiap jilidnya lebih kurang terdiri dari 1000 halaman. 
Dari empat jilid tersebut mulai huruf alif terputus pada huruf kha’ sisanya diperkirakan masih 20 huruf lagi yang belum ditemukan. “Wallahu a’lam, mungkin dimakan rayap atau karena memang faktor usia. Semua itu merupakan PR bagi kita untuk mengkaji kitab-kitab tersebut agar mengetahui sejarah ulama terdahulu,” pungkas Habib Ahmad.

Senin, 01 April 2019

Ketika K.H Ma'ruf Amin Sowan Ke Gus Dur #History

Gus Dur semakin dekat dengan Kiai Ma'ruf setelah peristiwa Tanjung Priok 1984. Gus Dur menemukan kawan dalam perjuangan mengembangkan NU bersama kiai yang menguasai khazanah klasik kitab kuning, terbuka untuk mengkaji kitab modern, dan selalu mengikuti perkembangan melalui media.

Setiap hari Kiai Ma'ruf membaca tiga surat kabar nasional. Majalah mingguan pun juga dibacanya. Beliau berprinsip lebih baik tidak punya kendaraan pribadi daripada ketinggalan informasi.

Gus Dur sering diundang dalam acara yang diadakan oleh Yayasan Al-Jihad, khususnya dalam upaya mensosialisasikan hubungan Islam dan Pancasila kepada para ulama dan mubaligh.

Gus Dur juga beberapa kali meminta Kiai Ma'ruf menggantikannya berceramah seperti pada acara Akhirussanah (akhir tahun pelajaran) di Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari Malang tahun 1987. Kiai Ma'ruf yang saat itu menjadi Wakil Ketua LDNU Wilayah Jakarta, menggantikan Gus Dur yang berhalangan hadir.

Melalui Gus Dur pula, Kiai Ma'ruf disarankan untuk sowan kepada para ulama waskita, antara lain Kiai Hamid Kajoran, Magelang. 

Saat pertama kali sowan ke Kajoran, Kiai Hamid sedang kurang sehat dan berbaring di ranjangnya. Sementara para tamu lain duduk bersila di bawah. Kiai Ma'ruf diminta oleh Kiai Hamid Kajoran untuk duduk di atas kasur bersamanya. Ulama yang disebut sebagai waliyullah itu meminta Kiai Ma'ruf untuk berziarah ke makam Syekh Belabelu di Parangtritis.

Kiai Maruf memenuhi anjuran Mbah Hamid Kajoran itu. Ia pergi ke Pamancingan, Parangtritis, makam Syekh Belabelu atau Raden Jaka Bandem, putra dari Raja Brawijaya V dan murid Syekh Maulana Maghribi. 

Tiba di lokasi pemakaman, seseorang yang tampaknya sudah menunggu, segera menyapanya. "Anda, Ma'ruf Amin, ya?" ujar orang itu menyapa ramah. "Iya betul," jawab Kiai Ma'ruf.

"Anda akan mendapat amanah besar, Insyaallah," ujarnya menyambung. Kiai Ma'ruf tak sempat berkomentar dan bertanya lebih lanjut hingga tak sadar orang yang menyambutnya itu sudah pergi. 

Tak lama berselang sejak pertemuan dengan sosok misterius itu, berlangsung Muktamar NU ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam hajat tertinggi PBNU ini, KH Achmad Siddik terpilih sebagai Rais 'Aam dan Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. 

Kiai Ma'ruf Amin dipercaya sebagai Katib Syuriyah pada struktur PBNU yang kemudian nama posisi ini menjadi Katib 'Aam Syuriyah. Sejak menjadi katib inilah kealiman Kiai Ma'ruf mulai menonjol dan produktif menelurkan pemikiran-pemikiran baru.

Jabatan itu merupakan lompatan karirnya di PBNU, karena sebelumnya ia belum masuk dalam struktur di tingkat PBNU. Posisi ini tak lepas dari usulan Gus Dur. Posisi ini pula yang pernah diduduki Gus Dur dalam PBNU periode 1979-1984.

Sebagai katib, Kiai Ma'ruf mulai rutin berkantor di PBNU. Ia menyiapkan konsep sistem pengambilan keputusan hukum berdasarkan manhaji (metodologi) yang dibahas secara dinamis dalam Munas NU di Lampung tahun 1992. 

Dalam Munas ini dibahas pula hukum perbankan dan rencana mendirikan bank NU, sebuah isu yang kemudian menjadi spesialisasinya. 

Hasil Munas Lampung ini merupakan lompatan pemikiran para ulama NU. Majalah AULA edisi April 1992 menyebutnya dengan "Pintu Ijtihad Sudah Ketemu Kuncinya".

Dalam istilah Kiai Ma'ruf, Munas Lampung merupakan periode tajdidi (pembaruan) dalam tubuh NU, yakni merumuskan konsepsi untuk menghadapi konservatisme pemikiran menuju dinamisasi. 

Suksesnya bahtsul masa'il dalam Munas Lampung itu tak lepas dari tangan dingin Kiai Ma'ruf sebagai katib syuriyah. Pelaksanaan bahtsul masa'il tak terganggu oleh situasi internal NU yang cukup pelik, akibat pengunduran diri KH Ali Yafie sebagai Wakil Rais 'Aam dan Pejabat Pelaksan Rais 'Aam sepeninggal almagfurlah KH Achmad Siddik. 

Munas itu kemudian menetapkan KH Moh. Ilyas Ruhiat sebagai Pejabat Pelaksana Rais 'Aam. Dengan demikian, sebagai katib, Kiai Ma'ruf melayani dua Rais 'Aam. 

Dalam Muktamar ke-29 di Pesantren Cipasung 1994, Kiai Ma'ruf menjadi Rais Syuriyah urutan ketiga, di bawah KH Nahrowi Abd. Salam dan KH Syafii Hadzami.
#IndonesiaMenang #2019CintaDamai

POLISI SIAP KAN KORBAN UNTUK LEBARAN