BeritaHOTDOK
Jumat, 10 Mei 2019
Kamis, 09 Mei 2019
Cinta Berbeda Agama
"Ada cinta dalam setiap agama. Tetapi, cinta sendiri tak punya agama." (Jalaluddin Rumi).
Apakah tujuan sejati agama itu? Ialah mengembangkan cinta di dalam dirimu, hingga engkau lebur di dalam cinta itu sendiri, manunggal dalam seluruh keberadaan yang pada hakikatnya adalah perwujudan dari Sang Maha Cinta. Setiap agama mengajarkan cinta kepada pemeluknya, tetapi cinta itu sendiri tak punya agama karena cinta adalah tujuan dari setiap agama. Kedudukan cinta di atas agama. Agama adalah jalan, cinta adalah tujuan yang hendak dicapai oleh jalan itu. Bagaimana bisa tujuan bisa lebih rendah tingkatannya daripada jalan yang menuju kepadanya? Maka, jika engkau mengaku sebagai orang yang beragama namun belum mampu merasakan cinta dan melihat cinta di mana-mana, engkau patut memperbaiki caramu beragama. Jika engkau mengaku sebagai orang yang beragama namun senantiasa menyebarkan kebencian dan permusuhan, memandang orang lain yang tidak seagama denganmu lebih rendah derajatnya darimu, maka beragamamu sia-sia belaka. Karena Tuhan adalah Cinta!
#javanicabooks #jawa #kejawen #yoga #sejarah #filsafat #sastra #sastrajendra #suwung #keris #tasawuf #budaya #tradisi #meditasi #novel #nusantara #batik #inspirasi #bali #tantra #spiritual #sains #wayang #buku #rumi
Minggu, 21 April 2019
KEBENARAN AL-QUR'AN
بسم الله الرحمن الرحيم
Bukti -bukti kekuasaan Allah dan kesempurnaan Ilmu-Nya
SURAH AR-RAD AYAT 1-10
1. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur'an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).
2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
3. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
4. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yg berfikir.
5. Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?" Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
6. Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan. padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.
7. Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.
8. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.
9. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.
10. Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.
Alhamdulillah hirabbil'alamiin
Sadaqallah'hul'adziim
Sabtu, 20 April 2019
Birrul Walidain
Birrul Walidain (Arab: بر الوالدين) adalah bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Yang mana berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap Muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah non muslim. Setiap muslim wajib mentaati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah. Birrul walidain merupakan bentuk silaturahim yang paling utama.
Dalam Islam tidak saja ditekankan harus menghormati kedua orang tua saja, akan tetapi ada akhlak yang mengharuskan orang yang lebih muda untuk menghargai orang yang lebih tua usianya dan yang tua harus menyayangi yang muda, seorang ulama dalam bukunya juga menjelaskan hal yang serupa. Dalam segala kegiatan umat Islam diharuskan untuk mendahulukan orang-orang yang lebih tua usianya, penjelasan ini berdasarkan perintah dari Malaikat Jibril, karena dikatakan bahwa menghormati orang yang lebih tua termasuk salah satu mengagungkan Allah.
Akhlak ini telah dilakukan oleh para sahabat, mereka begitu menghormati terhadap yang orang yang lebih tua meskipun umurnya hanya selisih satu hari atau satu malam, atau bahkan lahir selisih beberapa menit saja.
Al-Walidain maksudnya adalah kedua orang tua kandung. Al-Birr maknanya kebaikan, berdasarkan hadits rasulullah
: “Al-Birr adalah baiknya akhlak”. Al-Birr merupakan hak kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al-‘Uquuq (durhaka), yaitu "kejelekan dan menyia-nyiakan hak“. Al-Birr adalah mentaati kedua orang tua di dalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al-‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.
Jumat, 19 April 2019
BERBUAT BAIK ITU PADA HAKIKATNYA BERBUAT BAIK PADA DIRI SENDIRI
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Az-Zalzalah, ayat 7 dan 8 sebagai berikut:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya: "Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar zaroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebasar zaroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula."
Zaroh adalah bagian terkecil dari sesuatu, yang di dalam Ilmu Fisika disebut atom. Allah SWT menegaskan bahwa tak satu pun perbuatan manusia, meski sekecil atom, lepas dari perhatian dan pengawasan Allah SWT. Perbuatan baik, betapapun kecilnya, pasti akan mendapat balasan. Demikian juga perbuatan jelek pasti akan mendapat balasan. Balasan bisa diterima di dunia ini, dan bisa pula di akhirat kelak. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada balasan yang tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
#2019PenuhDrama http://bit.ly/2I5f0uS (klik untuk membaca artikel lain)
Kamis, 11 April 2019
Abdullah bin Salam, Rasulullah, dan '3 Pertanyaan Langit'
Nama aslinya Husain bin Salam. Ia adalah Kepala Rabi Yahudi terkemuka dari Bani Qainuqo’ Madinah. Ia dikenal sebagai seorang yang alim. Ia sehari-hari membaca, merenungi, dan mengajarkan ajaran Taurat kepada Yahudi Madinah kala itu. Ia juga terkenal jujur, baik hati, dan istiqamah. Oleh sebab itu, masyarakat Madinah umumnya dan umat Yahudi khususnya sangat menghormati dan segan kepada Husain bin Salam.
Husain bin Salam juga orang yang tahu bahwa akan ada seorang nabi baru. Informasi itu didapatkannya dari kitab Taurat. Ia sangat tertarik dengan kabar kedatangan nabi baru tersebut. Sehingga ia mempelajari berbagai hal tentang sang nabi baru. Mulai dari ciri, sifat, dan pengetahuan sang nabi baru akan hal-hal yang bersifat ilahiyah. Di samping itu, Husain bin Salam selalu berdoa kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan sehingga bisa bertemu dengan nabi baru tersebut.
Ibarat peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa yang menjadi harapan Husain bin Salam seolah menjadi kenyataan. Kabar tentang kedatangan nabi Allah dan Rasulullah Muhammad saw. ke Madinah sampai di telinga Husain bin Salam. Husain bin Salam kemudian mencari informasi tentang siapa Muhammad. Mencocokkan sifat-sifat dan ciri-ciri, serta melihat wajah Muhammad dengan informasi yang ada di Taurat. Benar saja, apapun yang ada pada Muhammad sesuai dengan keterangan yang ada pada Taurat.
Namun demikian, keyakinan Husain bin Salam bahwa Muhammad adalah nabi baru belum seratus persen. Merujuk buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah, untuk membuktikkan kebenaran bahwa Muhammad adalah seorang nabi baru maka Husain bin Salam mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apa tanda pertama hari kiamat? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh nabi atau orang yang mendapatkan wahyu dari langit saja.
“Wahai saudaraku, penanda pertama akan terjadinya hari kiamat adalah adanya api yang menggiring manusia dari timur ke barat,” kata Muhammad saw. yang mengaku mendapatkan informasi itu dari malaikat Jibril.
Kedua, apa menu makanan yang pertama kali dinikmati penghuni surga? Rasulullah pun menjawab bahwa cuping hati ikan adalah makanan pertama yang dinikmati penghuni surga. Tidak puas dengan dua pertanyaan di atas, Husain bin Salam kembali melontarkan sebuah pertanyaan terakhir untuk menguji kenabian Muhammad.
Ketiga, mengapa seorang anak mirip dengan bapaknya? Dan mengapa seorang anak mirip dengan ibunya? Jika kedua pertanyaan sebelumnya bernuansa ‘ghaib’ karena belum terjadi, maka pertanyaan yang ketiga ini lebih bernuansa ‘ilmiah-akademik.’ Rasulullah menjawab, seorang anak akan mirip bapaknya jika bapaknya yang mencapai orgasme dulu pada saat berhubungan badan, dari pada ibunya. Sebaliknya, jika orgasme ibunya mendahului suami maka sang anak akan mirip ibunya.
Setelah mendengar jawaban Rasulullah, seketika itu juga Husain bin Salam langsung berikrar menyatakan diri masuk Islam. Ia juga mengakui kalau Muhammad adalah benar-benar utusan Allah. Atas kesaksiannya tersebut, Allah mengabadikan Husain bin Salam dalam Al-Qur’an Surat al-Ahqaf ayat 10.
Rasulullah lalu mengganti nama Husain dengan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam pun senang dengan nama baru pemberian Rasulullah itu. Ia lalu mengajak keluarga dekatnya untuk memeluk Islam. Mereka menyambut baik ajakan Abdullah bin Salam. Namun, kabar keislaman Abdullah bin Salam itu membuat berang umat Yahudi Madinah. Mereka tidak lagi respect dengan Abdullah bin Salam, bahkan menentangnya. Seolah mereka tidak terima kalau salah satu tokoh mereka menjadi pengikut Muhammad saw.
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Dalam sebuah hadits disebutkan.. عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ...
-
Khilafah dan Khalifah merupakan kata yang berasal dari kata Khalaf yang berarti di belakang. Maknanya adalah sesuatu atau seseorang yang ...

















